Konten Terbaru:
Home » » Indonesia Harus Dapat Menjadi Eksportir Pangan,Tidak Hanya Menjadi Target Pasar

Indonesia Harus Dapat Menjadi Eksportir Pangan,Tidak Hanya Menjadi Target Pasar

Written By Tepung Mocaf on Senin, 23 Januari 2017 | 23.1.17

JAKARTA – Pemerintah diharapkan lebih serius memacu produktivitas pangan nasional agar secepat mungkin mewujudkan swasembada dan kedaulatan pangan Indonesia. Selain berdaulat pangan, Indonesia semestinya juga mampu menjadi eksportir pangan sehingga tidak hanya menjadi target pasar negara-negara maju.

Seperti dikabarkan, negara maju seperti Amerika Serikat (AS) pun juga berambisi menjadi superpower pangan dunia. AS mengincar pasar dari perkembangan pesat mayarakat kelompok menengah Asia.

Pengamat ekonomi Indef, Bhima Yudhistira, mengatakan kelompok negara maju di Eropa maupun AS saat ini sedang berupaya meningkatkan ekspor pangan setelah berhasil mewujudkan ketahanan pangan untuk kebutuhan sendiri.

“Bagi negara maju, pangan merupakan mesin kuat untuk penciptaan lapangan kerja. Melalui pangan juga bisa menangguk untung besar dari ekspor ke negara yang selama ini bergantung impor pangan, seperti Indonesia,” ujar dia saat dihubungi, Kamis (12/1).

Dikabarkan, dalam satu acara di California, AS, belum lama ini, Ketua Pelaksana Pratt Industries, Anthony Pratt, menyampaikan sejumlah poin kunci mengenai strategi pengembangan industri pangan AS.

Ia menyatakan AS merupakan superpower pangan dunia, dan produksi pangannya menjadi industri terbesar di negara itu. Penjualan pangan lebih besar ketimbang industri otomotif, film, teknologi, serta minyak dan gas. Dan, dengan tenaga kerja sebanyak empat juta penduduk Amerika Serikat maka industri itu layak mendapatkan perhatian lebih.
“Kami bisa menggandakan penjualan menjadi 1,8 triliun dolar AS dan menciptakan jutaan pekerjaan baru di Amerika Serikat,” papar Pratt.

Menurut dia, AS mampu melakukan hal itu dengan menyasar ledakan kelas menengah Asia, dan lebih dari 2,5 miliar penduduk memiliki tambahan daya beli. Produsen salad AS bisa memanfaatkan peluang ini melalui ekspor lebih banyak buah-buahan bernilai tambah, sayur-sayuran, daging, dan susu, begitu juga makanan olahan jadi seperti susu formula bayi.

Upaya itu bisa dijalankan dengan dukungan salah satu kekuatan terbesar AS, yakni ketahanan pangan. Pratt mengungkapkan dua kunci untuk meningkatkan nilai ekspor pangan California dari 20 miliar dolar AS menjadi 40 miliar dolar AS setahun adalah mengatasi masalah kekurangan air karena saat ini 2/3 wilayah California dilanda kekeringan. Kunci selanjutnya adalah mengatasi kekurangan tenaga kerja yang membuat 20 persen buah-buahan tidak bisa dipanen.

Bhima menambahkan Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump akan semakin protektif, namun tetap berambisi untuk ekspansi, terutama dari ekspor pangan. Di satu sisi, ini bisa menjadi peluang bagi Indonesia.

Dalam kampanyenya, Trump cenderung “anti” terhadap dua negara, yakni Tiongkok dan Meksiko. Ketika dua negara itu tidak lagi disasar AS maka Indonesia punya kesempatan relokasi industri AS yang berada di Tiongkok ke Tanah Air.

Visi dan Kerja Keras

Pengamat pertanian dari Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Surabaya, Ramdan Hidayat, menilai keberhasilan AS mengekspor pangan merupakan gabungan dari visi dan kerja keras pemerintah dan masyarakatnya.

“Soal kebutuhan pangan sudah dipikirkan jauh-jauh hari, baik dari pengembangan riset, sosialisasi, hingga dukungan kebijakan yang berkelanjutan. Meski ganti rezim, kebijakan tetap dilanjutkan. Hasilnya mereka tidak hanya swasembada tapi juga surplus,” jelas dia.

Sayangnya, lanjut Ramdan, Indonesia yang memiliki potensi besar di sektor pertanian justru melakukan hal kebalikannya, yakni gencar impor pangan. Makanya, pemerintah seharusnya berkomitmen terhadap sektor pertanian, dengan melakukan pembangunan pertanian berkelanjutan.

“Daripada dipakai buat impor yang mematikan petani sendiri, lebih baik dananya digunakan untuk pengembangan, baik subsidi, infrastruktur, maupun riset,” tukas dia.
Sebelumnya, Presiden Joko Widodo bertekad menjadikan Indonesia sebagai negara yang bisa mengekspor pangan ke beberapa negara di dunia. Tekad itu bisa diwujudkan jika infrastruktur pendukung produksi pangan dipersiapkan secara matang mulai saat ini.

“Hari ini kita impor pangan. Jika pertumbuhan penduduk meningkat, kemudian pangan yang kita impor sudah ditutup, kita akan kerepotan. Makanya, kita benahi saat ini untuk kepentingan jangka panjang,” kata Presiden, beberapa waktu lalu



Sumber: koran-jakarta.com
Share this article :

0 komentar:


Tepung Mocaf

Tepung singkong yang dimodifikasi sehingga berkualitas tinggi...

Untuk Pembelian Tepung Mocaf Hubungi
YULIANA
0271-825266

 
Dipersembahkan oleh Lembaga Penelitian Universitas Jember
Didukung oleh : Universitas Jember | LPDP | BCM
Copyright © 2015. Tepung MOCAF - All Rights Reserved