Konten Terbaru:
Home » » Balada Singkong

Balada Singkong

Written By Tepung Mocaf on Senin, 23 Januari 2017 | 23.1.17

Ilustrasi Singkong

LAMPUNG merupakan provinsi penghasil singkong terbesar nasional. Namun, itu baru sebatas statistik komparatif yang belum menjadi kekuatan kompetitif daerah. Padahal, tidak sedikit masyarakat Lampung menjadikan sektor pertanian ini sebagai mata pencarian. Besarnya produksi singkong Lampung belum menyejahterakan rakyatnya.
Merujuk Masterplan Percepatan Perluasan Pembangunan Ekonomi Lampung 2012—2025, singkong merupakan makanan pokok nasional ketiga setelah padi dan jagung. Selain menjadi sumber makanan pokok, pohon industri dari ubi kayu sebenarnya cukup bervariasi, mulai dari pakan ternak, kimia, hingga farmasi. Struktur PDRB tiap tahun juga menempatkan pertanian sebagai unsur utama ekonomi wilayah. Ini mengindikasikan banyak lapangan kerja yang ada pada sektor ini.
Keunggulan komparatif singkong Lampung ini belum liniar dengan manfaat ekonominya bagi petani dan daerah. Besarnya panen ubi kayu ini belum mampu mengerem impor produk turunannya. Data pada 2014 kita impor bioetanol, sebagai salah satu produk turunan singkong, sebanyak 57.280 liter, padahal panen singkong Lampung pada saat itu mencapai 8 juta ton lebih. 
Kita juga masih impor tepung tapioka 600 ribu ton pada 2015, padahal Lampung panen 7,3 juta ton singkong pada tahun yang sama. Selama Januari—Juni 2016, kita impor 415 ribu ton tapioka, padahal kita punya singkong tak kurang 8,2 juta ton. Daerah yang menjadi penghasil utama singkong ini—Kabupaten Lampung Tengah, Lampung Utara, dan Lampung Timur—belum bisa mengatasi kebutuhan produk turunannya.
Acap berulang, nasib buruk petani akibat jatuhnya harga singkong kembali terjadi pada akhir 2016 kemarin. Harga singkong merosot sampai Rp485 per kilo. Dampak dari masuknya singkong asal Vietnam via Surabaya dengan harga yang jauh lebih rendah dari harga rerata perusahaan di Lampung (Rp6.000 per kilo). Itu terjadi akibat kebijakan Tiongkok mengurangi konsumsi tepung tapioka yang selama ini dipasok dari Vietnam. Tiongkok menyubstitusi tapioka dengan sorgum yang dihasilkannya sendiri. Alhasil, Vietnam mengalihkan tapiokanya ke Indonesia dengan harga murah, Rp4.000 per kilo, sehingga perusahaan di Lampung terpaksa menurunkan harga beli singkong petani untuk menekan biaya produksi.
Selain faktor tersebut, mutu pati hasil olahan singkong Lampung juga belum cukup mampu bersaing di pasar. Kualitas jelas memengaruhi harga jual. Mutu pati singkong tersebut dipengaruhi, antara lain faktor penggunaan sarana produksi dan budi daya, faktor iklim, varietas yang ditanam, umur tanam, serta teknik pascapanen yang masih perlu ditingkatkan. Belum lagi faktor biaya yang membebani harga, seperti biaya pengangkutan.

Hilirisasi
Produk turunan tanaman ini sebenarnya cukup beragam. Pohon industri ubi kayu yang telah ada menggambarkan aneka produk olahan yang beragam dari proses hilirisasi singkong. Mulai dari akar hingga daun, bisa diolah menjadi produk yang memiliki nilai jual. Bagian batang dapat menjadi produk papan partikel ataupun briket, misalnya. Daun dapat menjadi makanan atau bahan farmasi. 
Kulit umbi dapat menjadi kulit samak untuk fashion, dan yang utama adalah bagian umbi yang dapat diolah menjadi berbagai produk, seperti gaplek, onggok, tepung tapioka, hingga makanan ringan. Ranting produk dari tepung tapioka dapat menjadi tapioka pearl, dekstrin, maltosa, perekat, dan sebagainya. Produk tersebut masih dapat terus diturunkan hingga menjadi produk-produk lainnya yang secara ekonomi bernilai lebih tinggi.
Semakin tinggi nilai produk dengan proses pengolahan tertentu, akan semakin tinggi pula kontribusnya terhadap kesejahteraan rakyat dan pertumbuhan ekonomi daerah. Besarnya produksi singkong Lampung perlu diimbangi dengan kemampuan rakyat mengolah ubi kayu menjadi produk-produk turunannya. Kemampuan ini yang harus ditumbuhkan dan untuk itu diperlukan peran serta berbagai pihak.
Pendekatan untuk mengatasi problem petani singkong ini perlu diarahkan untuk menjadikan mereka berdaulat. Tidak terus tergantung pada kebaikan hati pengusaha dalam menentukan harga beli singkong petani. Maka, perlu pendekatan strategis yang dilakukan secara bersama-sama, tidak cukup dengan pendekatan politis dengan memaksa pengusaha menaikkan harga beli singkong petani. Karena pada akhirnya pasar yang akan mengatur harga, sesuai dengan value (kuantitas, kualitas, kreativitas) dari produk itu sendiri. Nilai produk bisa ditingkatkan dengan sentuhan kreativitas serta inovasi.
Pemerintah sebenarnya telah memiliki kerangka sistem inovasi, baik tingkat nasional maupun daerah, untuk membangun kemampuan hilirisasi produk melalui sinergi antar-unsur utama dalam sistem tersebut, yaitu akademisi (peneliti), pengusaha (swasta), komunitas, dan pemerintah. Sinergi unsur-unsur utama dalam sistem inovasi diharapkan mampu mengangkat nilai ekonomi produk (barang/jasa) unggulan daerah, yang pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan rakyat.
Inovasi dan pembangunan bisnis berbasis singkong mendesak untuk dilakukan bersama-sama baik oleh petani, pengusaha, bersama-sama dengan pemerintah serta perguruan tinggi untuk membuat proses produksi dan pemasaran yang lebih menyejahterakan rakyat. Penelitian terapan untuk meningkatkan nilai jual singkong melalui inovasi proses hilirisasi menjadi satu kebutuhan.
Mungkin itu menjadi salah satu cara kita mensyukuri karunia Tuhan. Limpahan panen singkong yang belum menyejahterakan petaninya sendiri, merupakan tantangan yang menuntut jawaban dari kita segera. Sentuhan inovasi dalam tata kelola produksi, pengolahan, dan pemasaran singkong mendesak untuk dilakukan bersama. Karena Tuhan telah membekali kita sumber daya alam sekaligus sumber daya akal berupa kreativitas. Kalau di Sumatera Barat, singkong menjadi makanan dan oleh-oleh khas yaitu balado, sekarang di Lampung singkong masih menjadi balada.

Sumber: www[dot]lampost[dot]co
Share this article :

0 komentar:


Tepung Mocaf

Tepung singkong yang dimodifikasi sehingga berkualitas tinggi...

Untuk Pembelian Tepung Mocaf Hubungi
YULIANA
0271-825266

 
Dipersembahkan oleh Lembaga Penelitian Universitas Jember
Didukung oleh : Universitas Jember | LPDP | BCM
Copyright © 2015. Tepung MOCAF - All Rights Reserved