Konten Terbaru:
Home » » Impor Beras Hancurkan Proyek Swasembada

Impor Beras Hancurkan Proyek Swasembada

Written By Unknown on Jumat, 15 Mei 2015 | 15.5.15

Foto: Singkong di lahan bekas tambang batubara, potensi yang terabaikan

RMOL. Ambisi pemerintahan Jokowi-JK mensukseskan program swasembada pangan diper­kirakan bakal sulit terwujud. Pasalnya, pembangunan di sektor pertanian era Jokowi tidak jauh berbeda dengan era pemerintahan sebelumnya. Kondisi ini diperparah dengan rencana pemerintah untuk mengimpor beras.
Koordinator Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP), Said Abdullah me­nyebutkan, rencana impor beras bukanlah sesuatu yang mengejutkan. "Jauh sebelum pemerintah memutuskan im­por. Bahkan, sebelum harga beras bergejolak hebat pada periode Pebruari-Maret, KRKP telah mengingatkan sekaligus memprediksikan bahwa impor beras akan terjadi," katanya da­lam siaran pers yang diterima Rakyat Merdeka, kemarin.
Indikasinya antara lain, pada akhir tahun 2014 terjadi serangan hama wereng dan blast marak di sentra produksi padi dan ancaman kekeringan pada awal tahun 2015 yang menu­runkan produksi.
Dia menyebutkan, ketika Menteri Pertanian mengumumkan bisa swasembadapangan dalam tiga tahun, itu merupakan target yang cukup berani. "Sah-sah saja pemer­intah menjanjikan itu, namun mencapai swasembada padi, jagung, dan kedelai dalam tiga tahun dinilai sangat ambisius," ujarnya.
Ambisius, lanjutnya, karena kondisi ekosistem pertanian sudah sedemikian rusak, an­caman hama penyakit tinggi dan kondisi iklim yang makin tak bisa diprediksi. "Selain itu, strategi yang dipakai tak berubah dari era SBY. Kecuali keterlibatan TNI secara lang­sung dan rehabilitasi irigasi," imbuhnya.
Pemerintah, terangnya, masih saja menggunakan strategi benih hibrida, subsidi pupuk kimia sintetis besar-besar dan pestisida serta pem­bagian traktor. "Pemerintah Jokowi sepertinya tidak belajar dari pengalaman 10 tahun era SBY," keluhnya.
Dia mengemukakan, Indonesia mengimpor beras dalam volume besar pada tahun 2005 sebesar 1,1 juta ton, 2011 sebesar 2,7 juta ton dan 1,8 pada tahun 2012. "Pada tahun-tahun ini produksi terjun bebas karena adanya serangan hama penyakit dan sebagian kecil karena bencana banjir atau kekeringan," tuturnya.
Said menekankan, strategi yang diambil pemerintah juga dinilai tidak efisien. "Anggaran subsidi pupuk dan benih terus meningkat. Pada saat yang sama kebocoran dan salah sasa­ran juga terjadi," katanya.
Di era SBY, dalam 10 tahun anggaran pertanian naik hingga 611 persen. Padahal, produksi hanya naik sebesar 17,4 persen.Lalu pada saat yang samaimpor beras naik hingga 117 persen pada periode 2005-2009 dan 482,6 persen peri­ode 2010-2013.
"Pemerintah harus segera merubah strategi dan pendeka­tannya. Food and Agriculture Organization (FAO) juga sudah mengingatkan semua pihak bahwa pertanian kon­vensional sarat input kimia sintetis tak akan lagi mampu menjawab kebutuhan pangan dan peningkatan produksi," paparnya.
KRKP mengusulkan per­tanian ekologis skala rumah tangga (family farming) meru­pakan jawaban atas problem pangan kini dan di masa yang akan datang. "Indonesia tak lagi bisa bertumpu pada pertanian konvensional jika ingin swasem­bada apalagi berdaulat pangan," ucap Said.
Jika pemerintah memaksa­kan model pembangunan sep­erti saat ini, maka rakyat tahu bahwa kedaulatan pangan yang dijanjikan dalam Nawacita tak lebih hanya lipstik be­laka. "Pemerintah tak sungguh-sungguh memegang janjinya. Jangan lupa, kedaulatan pan­gan itu menempatkan petani sebagai subyek pembangunan pertanian".
Share this article :

0 komentar:


Tepung Mocaf

Tepung singkong yang dimodifikasi sehingga berkualitas tinggi...

Untuk Pembelian Tepung Mocaf Hubungi
YULIANA
0271-825266

 
Dipersembahkan oleh Lembaga Penelitian Universitas Jember
Didukung oleh : Universitas Jember | LPDP | BCM
Copyright © 2015. Tepung MOCAF - All Rights Reserved