Konten Terbaru:
Home » » WHO: Tahun 2050 Penduduk Alami Krisis Air dan Pangan

WHO: Tahun 2050 Penduduk Alami Krisis Air dan Pangan

Written By Tepung Mocaf on Rabu, 16 November 2016 | 16.11.16

Ilustrasi Beritajatim.com
Surabaya - Petugas Teknis Penyakit Tidak Menular (PTPTM) dari Badan Kesehatan Dunia (WHO), Sharad Adykary memperkirakan, pada 2050, dampak perubahan iklim mengakibatkan penduduk daerah mengalami krisis air dan keamanan pangan.

“Berbagai penyakit telah ditimbulkan, mulai kualitas air, malnutrisi (kekurangan gizi), ketahanan pangan, hingga dampak bencana yang diprediksi bakal terjadi,” kata Sharad yang menjadi pembicara utama  “1st SEHAT (Seminar on Environment and Health) Toward SDG’s Achievement 2030: Integration  System on Environment and Health Sustainability” di Unair, Selasa (8/11/2016).

Ia mengungkapkan, di sejumlah negara Afrika, hasil dari pertanian tadah hujan bisa diperkirakan berkurang setengah pada 2020. “Jika tidak ada respon dan kebijakan yang efektif, perubahan iklim akan mengakibatkan keempat hal itu akan menyengsarakan masyarakat,” ungkap Sharad.

Selain itu pengendalian penyakit infeksi, pada 2030 diperkirakan populasi penderita malaria di Afrika meningkat menjadi 170 juta. “Sedangkan, pengidap virus dengue akan meningkat menjadi 2 milyar pada2080,” papar penasehat kesehatan lingkungan WHO ini.

Sementara itu, Peneliti asal Institut Teknologi Karlsruhe (KIT), Jerman, Dr. Ing. Hendro Wicaksono yang menerangkan tentang “Sustainability of Smart City in European Union” mengatakan, dulu kota-kota Eropa dikenal dengan tipe kota kebun (garden city) dan kota mandiri (broadacre city). Namun, kata Hendro, mereka sekarang bergerak ke arah future city (kota masa depan).

“Dalam future cities, ada beberapa langkah yang harus dilakukan terhadap dampak itu. Yaitu mengurangi 80 persen gas, rumah kaca 2050, penggunaan energi terbarukan sampai 80 persen pada 2050, setiap bangunan bisa mengurangi konsumsi energi sampai 80 persen, dan mengurangi emisi transportasi sampai 40 persen,” papar Hendro.

Supaya bisa menjadi kota keberlanjutan, tambahnya, diperlukan implementasi dari berbagai aspek. ”Diantaranya aspek sosiokultural, pembuatan kebijakan terkait pembangunan yang melibatkan seluruh kalangan warga. Sedangkan dari aspek transportasi, perlu dilakukan car sharing,” tambah Hendro.

Ketua panitia seminar SEHAT, Dr. Rr. Azizah mengatakan, dalam pelaksanaan seminar internasional yang diketahui serangkaian dari Dies Natalis Unair ke 62 dengan mengangkat tema “62 Tahun Universitas Airlangga untuk Indonesia Adil dan Beradab” ini dapat membantu pemerintah dan masyarakat dalam mengantisipasi hal tesebut.

“Saya berharap seminar ini mampu menjembatani perguruan tinggi, perusahaan swasta, pemerintah, dan organisasi profesional dalam mewujudkan lingkungan yang sehat,” tandas Azizah.



Sumber: beritajatim[dot]com
Share this article :

0 komentar:


Tepung Mocaf

Tepung singkong yang dimodifikasi sehingga berkualitas tinggi...

Untuk Pembelian Tepung Mocaf Hubungi
YULIANA
0271-825266

 
Dipersembahkan oleh Lembaga Penelitian Universitas Jember
Didukung oleh : Universitas Jember | LPDP | BCM
Copyright © 2015. Tepung MOCAF - All Rights Reserved