Konten Terbaru:
Home » » Wawancara Achmad Subagio 2; Dari singkong, Indonesia bisa mendunia

Wawancara Achmad Subagio 2; Dari singkong, Indonesia bisa mendunia

Written By Tepung Mocaf on Minggu, 24 Januari 2016 | 24.1.16



    Profesor Achmad Subagio. ©istimewa
Merdeka.com - Lelaki kelahiran 17 Mei 1969 ini sudah sejak kecil sudah akrab dengan singkong. Sejak duduk di bangku sekolah, pemilik nama lengkap Achmad Subagio ini juga sudah membantu keluarganya berjualan makanan berbahan dasar singkong. Sebut saja gethuk, makanan tersohor dari singkong.

Pria bergelar Profesor juga Guru Besar Universitas Negeri Jember, Jawa Timur ini pernah menjajakan gethuk. Dari singkong, Achmad mampu meluluskan kuliahnya di Universitas Negeri Jember dengan predikat Cum Laude. Namun dia prihatin dengan anggapan banyak orang tentang singkong. Banyak yang menganggap singkong makanan kaum marjinal.

Berangkat dari kedekatannya dengan singkong, Prof Achmad terbang ke Belanda untuk melanjutkan pendidikan. Dia mengikuti program kerjasama antar Universitas Asia-Eropa di Belanda dan Inggris. Pulang dari sana, Achmad makin kepincut buat mengembangkan singkong. Hasilnya dia menemukan terobosan baru, singkong menjadi tepung di beri nama mocaf. Tepung itu tak berasa singkong dan dapat digunakan untuk pembuatan banyak jenis makanan.

Bahkan Prof Achmad mengatakan, jika Singkong juga bisa mewujudkan pemerintah soal ketahanan pangan. Dia pun membuat terobosan membuat beras tiruan dari bahan dasar singkong. "Ia betul. Karena kita adalah produsen terbesar nomor tiga di dunia untuk singkong," ujar Prof Achmad Subagio melalui sambungan seluler, Jumat pekan lalu.

Berikut petikan wawancara Prof Achmad Subagio kepada Arbi Sumandoyo tentang inovasi dan perjuangannya membawa singkong ke kancah dunia.


Ini soal pengembangan pangan terus dilakukan oleh Anda, bagaimana dukungan pemerintah ?

Dukungan yang ada itu sebetulnya dukungan bukan soal kebijakan. Tetapi mereka membantu penelitian kita. Terakhir ini kita terima bantuan dari Australia kemudian juga Kementerian Keuangan ada memang untuk pengembangan. Dari itu semua jauh lebih penting adalah soal kebijakan. Adanya kebijakan misal untuk pupuk petani singkong, kemudian bantuan bibit dari singkong. Karena bibit singkong digunakan petani sangat rendah sekali mutunya karena sudah tahunan. Ini harus diperbaiki misal dengan bantuan pemberian bibit unggul. Itu yang tidak ada di pemerintah termasuk juga soal produksi, kalau mocaf kota produksi ditentukan pajaknya 11 persen. Sedangkan terigu hanya 1,5 persen. Itu kan istilahnya barang yang lucu, dari nilai tambah itu yang kemudian membebani kita. Karena pajak tinggi kemudian itu juga mempengaruhi terhadap harga.

Harusnya kalau terigu masuk pajaknya harus besar dong. Sementara kita produksi dalam negeri pajaknya malah besar. Itu hanya contoh bagaimana kebijakan yang tidak pro kita. Ini sudah sering kali kita suarakan, tetapi sepertinya pemerintah belum melihat itu sebagai sesuatu yang bagus.

Apakah Anda sebelumnya sudah menjelaskan potensi ketahanan pangan dari singkong ?

Sudah kita sudah berbicara dengan berbagai menteri, dari zamannya pak SBY dulu kita sudah sering bicara langsung. Tatap muka, kemudian mereka meminta waktu dari saya, sudah banyak. Tetapi tidak ada tindakan. Bahkan saya sekarang tidak pernah diundang untuk membicarakan itu.

Produksi pertanian di Indonesia hingga saat ini masih terus ke padi. Bahkan sekarang ada pemotongan dari bantuan berapa hektar singkong, sekarang tinggal ribuan hektar. Itu kecil sekali. Untuk singkong besar sekali, perlu jutaan hektar, nah kalau program pemerintah hanya 10 ribu hektar tidak ada artinya apa-apa.

Artinya dengan seperti itu, singkong akan impor terus ?

Betul dan kita pernah sekali alternatif bahan pangan itu tidak ada. Apalagi jika dikaitkan dengan pembangunan inklusif ya. Jadi pembangunan inklusif itu tidak akan terjadi. Kenapa ? dengan fokus hanya padi, maka daerah-daerah yang subur saja ada pertanian.

Misal pembangunan waduk, itukan perlu adanya air. Jika itu di bangun di daerah misal berizin C, berizin D itu tidak akan teraliri air. Kalau sudah seperti itu berenti pembangunan pertanian pun tidak akan terjadi kalau kita lihat misalnya, ada drop-dropan traktor. Yang mendapatkan traktor itu hanya di daerah yang ada padinya. Sementara Gunung Kidul sana, masa harus di drop traktor dan sekarang kita lihat yang terjadi adalah banyaknya TKI, TKW itu dari mana sumbernya.

Coba Anda tanya daerahnya salim kancil tadi, 'Bapak pernah pergi ke luar negeri? mereka jawab pernah. Karena mereka mayoritas pernah jadi TKI. Sekitar 60 persen.

Karena daerah mereka tidak bisa ditanami ?

Tidak bisa ditanami, sehingga tidak ada pembangunan pertanian di sana. Dan itu jumlahnya 60 persen dari jumlah lahan di Indonesia.

Apakah Anda sudah berbicara dengan pemerintah mengenai ketahanan pangan saat ini ?

Oh sudah. Kita juga Pokja di bawah Dewan Ketahanan Pangan. Tetapi bagaimana pun juga, ada baiknya ada tangan yang besar sekali. Mulai dari singkong masih dianggap makanan marjinal, itu juga masih masalah sebenarnya. Pemerintah harus berani bikin terobosan. Karena kalau terobosan itu tidak ditanggung negara, ditanggung siapa lagi kan ?. Jadi mestinya lahan yang saya katakan marjinal itu, kalau kita olah kemudian kita tanami singkong itu. Kita tanami tanaman yang bisa tumbuh, maka akan ada pembangunan pertanian di situ.

Artinya secara singkat mampu menggerakkan ekonomi di daerah dengan tanah kurang subur ?

Ya betul. Sehingga mereka ada lapangan pekerjaan. Kemudian tidak urbanisasi dan pertumbuhan ekonomi daerahnya berjalan karena sudah masuk itu. Jadi pemerataan pembangunan bisa dengan cara itu. Seperti saya katakan tadi, pembangunan inklusif. Selama ini karena pembangunan kita berbasis pada komoditi, bukan kewilayahan. Karena wilayah yang tidak sesuai dengan komoditi itu tidak dibangun kan begitu. Mestinya adalah pembangunan berbasis wilayah. Wilayah ini cocoknya apa, apa pun yang terjadi, kan begitu. Itu yang harus di kerjakan.

Kalau melihat potensi, apakah peminat singkong di luar negeri banyak ?

Sangat tinggi sekali. Karena layanan untuk ekspor juga sudah muncul dari berbagai negara. Tetapi karena produk kita untuk melayani dalam negeri istilahnya sudah terserap, ekspor belum kita lakukan. Hanya beberapa kali kita mengirim sample saja. Satu kontainer, dua kontainer begitu. Untuk penjajakan.

Jadi di tempat itu, misal di Jepang, kemudian di Korea makanan yang istilahnya sedang berkembang dan mocaf dilirik untuk itu. Kalau di Eropa dan Amerika perkembangan makanan-makanan itu luar biasa.

Berapa ton potensinya untuk di ekspor ?

Jadi kalau dari potensi kita katakanlah yang tadi 25 juta ton ya. Kalau pemerintah ngoyoh, mau mendukung itu, karena potensi singkong itu istilahnya kalau kemudian dijalankan dengan baik itu katakanlah rata-rata bisa 50 ton per hektar. Sehingga kalau kita mau ambil 50 persen dari situ, kita ada peningkatan katakanlah 10 juta ton, kalau itu dijadikan mocaf itu bisa 3 juta ton. Jadi kita punya cadangan 3 juta ton kalau kita mau ngoyoh untuk ke depan kita. Kalau kita ekspor 3 juta ton itu kan luar biasa.

Kita impor terigu itu 8 juta ton, itu separuh dari terigu. Nah pengalaman Nigeria itu, pada tahun 2006-2007 itu adalah importir terbesar terigu, kemudian ada kebijakan dari pemerintahnya untuk memanfaatkan singkong. Ini contoh bagusnya. Jadi untuk memanfaatkan singkong pengganti terigu. Jadi target mereka tahun 2010, itu adalah 25 persen dari impor terigu mereka digantikan singkong. Tahun 2010 itu betul, mereka semula menjadi importir terbesar terigu, sementara mereka bisa 25 persen. Itu kan dari contoh singkong saja bisa seperti itu. Itu bisa dilakukan karena ada kebijakan dari pemerintah.

Artinya dari singkong Indonesia bisa mendunia ?

Ia betul. Karena kita adalah produsen terbesar nomor tiga di dunia untuk singkong. Jadi pertama adalah Brazil, kemudian Nigeria dan Indonesia nomor tiga. Tetapi perdagangan dunia dikuasai oleh Thailand. Thailand itu kalau tidak salah nomor empat atau lima untuk produksi singkong. Jadi singkong itu seperti saya katakan tadi bisa digunakan untuk apa saja. Kemudian papan-papan kayu juga itu ada singkongnya, kemudian farmasi dan pangan apalagi.

Artinya banyak sebetulnya bisa dijadikan dari singkong ?

Iya betul. Dan itu industrialisasi sudah ada. Singkong itu bisa jadi MSG (Monosodium glutamat). Sekarang MSG itu kan pakai singkong. Kalau dulu kita ekspor. Kita produsen MSG terbesar di dunia. Kenapa begitu, karena kita produsen tebu terbesar. Jadi setelah dibatasi, bahan dasarnya kan tidak ada. Kemudian produsen MSG ini mencari cara dan kemudian ketemu lah tepung tapioka. Dan itu yang sekarang digunakan untuk memproduksi MSG untuk kemudian di ekspor dalam jumlah besar.

Sementara karena permintaan tinggi sementara bahan baku kita memble, kan begitu. Pemerintah tidak berbuat apa-apa dengan singkong itu.

Butuh kebijakan dari pemerintah melalui Badan Ketahanan Pangan ?

Bahan Ketahanan Pangan tidak kuat itu. Badan Ketahan Pangan tidak mempunyai taring untuk itu.

Artinya pemerintah perlu mendorong tidak hanya padi, tetapi juga singkong ?

Variannya banyak. Jadi kita kan Bhineka Tunggal Ika, artinya kekayaan kita kan keragaman. Tetapi nyatanya kita terpaku hanya kepada komoditi. Itu masalah itu. Konsep pembangunan pertanian yang keliru. Paradigma pembangunan pertanian jadi salah. Apa potensi daerah itu, kemudian kita kembangkan yang cocok di daerah itu. Cocok itu dalam arti bukan hanya budidaya teknisnya tetapi juga fakta-faktanya. Seluruh daerah berkembang. Mestinya begitu.

Peran pemerintah memang sangat dibutuhkan untuk membawa singkong ke kancah dunia ?

Iya betul. Sekarang kita lihat. Ahli singkong, Indonesia ada empat orang yang ahli, semuanya pensiun dan tinggal satu orang. Bisa dibayangkan itu. Belum lagi ahli singkong itu juga ahli kedelai, jadi karena tidak ada dukungan akhirnya singkong ditinggalkan. Karena pemerintah tidak mengembangkan SDM-nya. Itu yang jadi masalah di kita.
[arb]
 
 
@http://www.merdeka.com/khas/dari-singkong-indonesia-bisa-mendunia-wawancara-achmad-subagio-2.html
Share this article :

0 komentar:


Tepung Mocaf

Tepung singkong yang dimodifikasi sehingga berkualitas tinggi...

Untuk Pembelian Tepung Mocaf Hubungi
YULIANA
0271-825266

 
Dipersembahkan oleh Lembaga Penelitian Universitas Jember
Didukung oleh : Universitas Jember | LPDP | BCM
Copyright © 2015. Tepung MOCAF - All Rights Reserved