Konten Terbaru:
Home » » Growth, Protection, dan Distribution untuk Ketahanan Pangan

Growth, Protection, dan Distribution untuk Ketahanan Pangan

Written By Tepung Mocaf on Kamis, 01 Oktober 2015 | 1.10.15


“Populasi bertambah menurut deret ukur, sementara ketersediaan pangan bertambah menurut deret hitung..”

dakwatuna.com – Pangan adalah salah satu kebutuhan dasar manusia. Tak peduli seberapa jauh manusia sekarang telah berjalan, mereka tetap butuh makanan. Sebagaimana Tuhan menciptakan lalu mengatur makhluk sekalian alam, manusia bertanggung jawab terhadap apa-apa yang terjadi di atas bumi dengan segala isi dalam dan luarnya. Bedanya, untuk menjalankan tugasnya, Tuhan tak butuh makan sementara manusia sangat bergantung pada makanan. Maka ada yang terlihat jadi mengherankan ketika orang ramai-ramai membuat persembahan untuk Tuhan. Hasil sawah, ladang, atau bahkan tangkapan ikan, disisihkan untuk kemudian dipersembahkan kepada Tuhan melalui, misalnya, dibuang ke laut atau diletakkan di bawah pohon besar. Ketika esok hari makanan itu hilang, bukan berarti Tuhan mengambilnya. Tuhan, jika ia memang benar-benar Tuhan (dengan T besar), tak butuh makan. Tentu saja itu ulah manusia.

Sayangnya kita menghadapi jumlah makanan yang sangat terbatas dan akan terasa semakin terbatas karena pertumbuhan populasi yang mengerikan. Kondisi itulah yang agaknya mendorong Malthus untuk khawatir. Ia membayangkan bagaimana dunia akan mengalami krisis pangan: rumah dan gedung-gedung mengambil sawah-sawah, pasokan pangan menurun, sementara jumlah penduduk bumi tumbuh begitu cepat. Perang dan kematian, baginya, justru merupakan jalan untuk bertahan hidup.

Tapi benarkah perang dan kematian, sebagaimana yang Malthus sarankan, adalah jalan untuk bertahan hidup?
Saya ingin mengutip seorang ekonom yang hidup jauh sebelum Malthus tapi memiliki kekhawatiran yang sama—ketidakseimbangan antara jumlah pangan dan jumlah manusia. Dia merupakan bendaharawan negara Mesir di mana Mesir merupakan salah satu peradaban terbesar di masanya. Ekonom itu, yang juga terkenal sebagai penakwil mimpi, bernama Yusuf.

Tak beda dengan Malthus, Yusuf memprediksi bahwa di masa depan akan ada gap yang panjang antara jumlah makanan dan jumlah manusia. Bedanya, kalau Malthus lebih menekankan pada pertumbuhan jumlah populasi dunia yang tak terkendali, Yusuf menekankan pada sisi supply. Dalam prediksinya, akan terjadi supply shock yang sangat mengerikan. “Akan datang tujuh tahun yang sangat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya”.

Namun Yusuf tak menyarankan perang dan kematian. Ia kemudian mengajukan tiga paket kebijakan ekonomi kepada raja ketika itu. Tiga paket kebijakan yang diajukan Yusuf adalah Growth, Protection, dan Distribution.
“Agar anda bercocok tanam tujuh tahun sebagaimana biasa”, ujar Yusuf memulai penawaran paket kebijakan ekonominya. “Kemudian apa yang anda tuai hendaklah anda biarkan di tangkainya kecuali sedikit untuk anda makan”. Tentu saja Yusuf tahu, bahwa untuk mengatasi gejolak di sektor riil, kebijakan yang harus diambil juga adalah kebijakan yang berpengaruh ke sektor riil. Mungkin itulah sebabnya ia tak menyarankan, misalnya, mekanisme penurunan harga melalui subsidi. Atau bantuan langsung berupa uang ke masyarakat. Sebab harga hanyalah nilai dari sebuah barang dan uang hanyalah alat tukar. Jika tak ada perubahan dalam kuantitas pangan, semurah apapun harganya dan sebanyak apapun uang yang dimiliki masyarakat tak akan ada artinya. Yang terjadi kemudian adalah kelangkaan, dan dengan demikian, kelaparan di mana-mana.

Maka ia menyarankan bercocok tanam, yang tak lain adalah perlambang dari pertumbuhan (Growth). Ketika kita sudah selesai dengan prediksi bahwa krisis pangan akan terjadi, tak bisa tidak, yang harus dikejar kemudian adalah pertumbuhan produksi pangan. Namun tak selesai di situ. Ketika hasil dari pertumbuhan itu sudah mulai terlihat, yang berikutnya harus dilakukan adalah menyimpannya untuk masa depan kecuali sedikit saja untuk memenuhi konsumsi hari ini. Dari yang sedikit itu kemudian harus dipikirkan bagaimana cara mendistribusikannya agar semua orang bisa menikmatinya sehingga tidak ada yang kelaparan.

Syahdan, paket kebijakan yang ditawarkan Yusuf mungkin terdengar klise—meningkatkan supply untuk menanggulangi krisis ketersediaan pangan. Tapi jika kita melihat kondisi hari ini beserta kebijakan-kebijakan “salah” yang diambil pemerintah, apa yang ditawarkan Yusuf sesungguhnya jadi sesuatu yang menarik.
Saya lalu jadi teringat Rasulullah pernah berkata: Kalau kau memiliki sebuah biji (atau bibit tanaman), sekalipun kau tahu besok adalah hari kiamat, tanamlah.
Redaktur: Deasy Lyna Tsuraya


Sumber: http://www.dakwatuna.com/2015/09/29/75207/growth-protection-dan-distribution-untuk-ketahanan-pangan/#ixzz3nNUQmCLu 
Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook
Share this article :

0 komentar:


Tepung Mocaf

Tepung singkong yang dimodifikasi sehingga berkualitas tinggi...

Untuk Pembelian Tepung Mocaf Hubungi
YULIANA
0271-825266

 
Dipersembahkan oleh Lembaga Penelitian Universitas Jember
Didukung oleh : Universitas Jember | LPDP | BCM
Copyright © 2015. Tepung MOCAF - All Rights Reserved